Bank Mandiri membukukan laba bersih bank only Rp46,5 triliun hingga Oktober 2026, naik 19,6% dibanding periode yang sama setahun sebelumnya. Kredit tumbuh 16,5% menjadi Rp1.635 triliun, sementara rasio kredit bermasalah gross turun menjadi 0,97%. Angka-angka ini menggambarkan kinerja perusahaan menurut laporan yang diterbitkan pada 6 November 2026; bukan jaminan bahwa pertumbuhan tersebut akan berlanjut. [1] [2]
Poin penting
- Laba bersih bank only mencapai Rp46,5 triliun, tumbuh 19,6% secara tahunan hingga Oktober 2026. [1] [2]
- Kredit naik 16,5% menjadi Rp1.635 triliun dan diarahkan, menurut perusahaan, ke sejumlah sektor produktif dan resilien. [1]
- NPL gross turun dari 1,02% pada Oktober 2025 menjadi 0,97% pada Oktober 2026; NPL coverage tercatat 244,5% dan cost of credit 0,55%. [1]
- Dana pihak ketiga tumbuh 15,1% menjadi Rp1.762 triliun, sedangkan CASA meningkat 15,5% menjadi Rp1.265 triliun. [1]
Kredit meningkat, dengan kualitas aset sebagai batas penting
Bank Mandiri melaporkan kredit sebesar Rp1.635 triliun, naik 16,5% secara tahunan. Perusahaan menyebut pembiayaan disalurkan dengan mempertimbangkan prospek usaha dan profil risiko, termasuk ke sektor pemerintahan, energi dan air, logistik, pengolahan logam, serta makanan dan minuman. Ini merupakan keterangan tentang strategi penyaluran dari perusahaan, bukan penilaian independen atas hasil setiap sektor. [1]
NPL adalah kredit yang masuk kategori bermasalah. Rasio NPL gross bank only tercatat 0,97%, turun dari 1,02% pada Oktober 2025. Perusahaan juga melaporkan NPL coverage 244,5%, yakni ukuran pencadangan terhadap kredit bermasalah, serta cost of credit 0,55%, yaitu biaya risiko kredit yang dilaporkan bank. Metrik tersebut memberi konteks pada ekspansi kredit, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan bagaimana risiko dapat berubah pada periode berikutnya. [1]
Pendanaan dan transaksi digital ikut tumbuh
Dana pihak ketiga (DPK), yaitu dana yang dihimpun dari nasabah, meningkat 15,1% menjadi Rp1.762 triliun. Giro dan tabungan atau CASA tumbuh 15,5% menjadi Rp1.265 triliun, dengan rasio CASA 71,8%. CASA merujuk pada dana giro dan tabungan; laporan menyebut pertumbuhan aktivitas transaksi sebagai salah satu penopang penghimpunan dana tersebut. [1]
Bank Mandiri melaporkan pengguna Kopra by Mandiri mencapai 455 ribu, naik 48,6%, dengan frekuensi transaksi 1,32 miliar. Pengguna terdaftar Livin' by Mandiri mencapai 43 juta, naik 20,4%, dan frekuensi transaksinya 4,22 miliar, meningkat 27,8%. Perusahaan juga mencatat fee-based income recurring—pendapatan berbasis komisi berulang—sebesar Rp17,2 triliun, naik 19,8%. Angka penggunaan layanan dan pendapatan ini menunjukkan skala aktivitas yang dilaporkan, tetapi tidak mengukur sendiri kepuasan pengguna atau keuntungan setiap layanan. [1]
Cara membaca angka kinerja ini
Angka laba Rp46,5 triliun dalam laporan tersebut menggunakan basis bank only, sehingga cakupannya perlu diperhatikan ketika dibandingkan dengan angka konsolidasi atau laporan bank lain. Pertumbuhan tahunan juga membandingkan periode yang sama dengan tahun sebelumnya, bukan perubahan dari bulan sebelumnya. Karena itu, penilaian yang lebih lengkap memerlukan pembacaan laporan keuangan dan indikator lain dengan basis serta periode yang sepadan. [1]
Yang perlu diperhatikan
Laporan hingga Oktober 2026 menunjukkan pertumbuhan laba, kredit, dan pendanaan Bank Mandiri yang disertai penurunan NPL gross. Namun, angka bank only memiliki cakupan tersendiri dan laporan ini tidak cukup untuk menilai seluruh aspek kesehatan bank atau prospek ke depan. Pembaca yang membandingkan kinerja antarbank perlu memastikan periode dan basis pelaporan yang digunakan sama. [1]
Sumber dan bacaan lanjutan
- Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 19,6% Menjadi Rp 46,5 T di Oktober 2026 — 2026-11-06
- BMRI Catat Laba Rp 46,5 T, Kualitas Aset Sehat dan Bisnis Digital Kuat — 2026-11-06
Disusun dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan. Konten edukasi, bukan rekomendasi investasi personal. Harga dan kondisi pasar dapat berubah.


